Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Breaking News

Keslimasy dan Desa Bantan Tua Kolaborasi Pulihkan Ekosistem Sungai Jangkang

60
×

Keslimasy dan Desa Bantan Tua Kolaborasi Pulihkan Ekosistem Sungai Jangkang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Mediamerpatuanugrah.com BANTAN – Kelompok Studi Lingkungan dan Masyarakat (Keslimasy) bersama Pemerintah Desa Bantan Tua melakukan Restorasi Ekosistem Sungai Jangkang, Kamis 4 Desember 2025, berlangsung di Jalan Lebai Wahid, Sungai Jangkang.

Program ini merupakan bagian dari upaya mendukung Bengkalis Lestari, sebuah kebijakan ekologis yang baru-baru ini diresmikan oleh Bupati Bengkalis.

Example 300x600

Acara menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk BPD, LKMD, Karang Taruna, LAMR Bengkalis, Duta Wisata Riau 2022, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Camat Bantan, BAPPEDA Bengkalis, Mapala Bestari, Mapala Laksamana, serta perwakilan Sekolah Dasar Negeri 13 di Desa Bantan Tua.

Pj. Kepala Desa Bantan Tua, Hermidayanti, secara resmi membuka kegiatan dan menyampaikan apresiasi kepada Keslimasy serta seluruh pihak yang terlibat.

“Terima kasih kepada Keslimasy dan semua unsur yang hadir. Kegiatan ini menjadi kontribusi nyata Desa Bantan Tua dalam mendukung program Bengkalis Lestari yang telah diluncurkan Bupati. Restorasi sungai bukan hanya agenda ekologis, tetapi upaya menjaga martabat dan masa depan desa,”ujarnya.

Perwakilan BAPPEDA Bengkalis, Syamsul Kamadhan, turut mengapresiasi langkah kolaboratif ini. “Bengkalis Lestari membutuhkan kerja bersama.

“Desa Bantan Tua sudah menunjukkan contoh bagaimana kolaborasi lintas pihak bisa menggerakkan perubahan,” ungkapnya.

Perwakilan LAMR Bengkalis M. Alfindra menyampaikan pandangan tentang hubungan historis masyarakat Melayu dengan sungai sebagai ruang hidup dan identitas peradaban.

“Masyarakat Melayu lahir dari peradaban sungai. Melestarikannya berarti menjaga marwah dan sejarah kita,”ungkapnya.

Sementara perwakilan dari Keslimasy Muhammad Iskandar, menekankan bahwa restorasi sungai harus dimulai dari desa dan diperkuat oleh kolaborasi yang inklusif.

“Terima kasih kepada Pemerintah Desa Bantan Tua dan seluruh pihak yang hadir. Keslimasy percaya bahwa pemulihan ekosistem sungai adalah investasi ekologis sekaligus sosial-ekonomi. Terima kasih juga kepada BPDLH atas dukungan pendanaannya,” jelasnya.

Iskandar menjelaskan, Kelompok Studi Lingkungan dan Masyarakat (Keslimasy) adalah komunitas ekologi yang berfokus pada riset, pendidikan ekologis, dan penguatan ruang kelola masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Riau.

Pada sesi materi, Iskandar juga membawakan perspektif ekologis, sosial-ekonomi, serta kearifan lokal dalam pengelolaan hutan mangrove yang menekankan pentingnya pemulihan sungai sebagai sumber peradaban masyarakat Melayu.

Kegiatan restorasi ekosistem akan dilanjutkan melalui penanaman 8000 Bibit Baku dilanjutan oleh Kelompok Konservasi Tunas Harapan (KKTH) Desa Bantan Tua sebagai pelaksana teknis konservasi di lapangan.

Sebagai simbol dimulainya kegiatan, dilakukan dengan penanaman mangrove serentak secara simbolis oleh seluruh pemangku kepentingan yang bersinergi dalam kegiatan tersebut.

Example 300250
Example 120x600
Breaking News

Merpatianugrah.com— BANYUWANGI Dugaan kekerasan terhadap sejumlah siswa di lingkungan Pondok Pesantren Baitus Salam, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi sorotan. Persoalan tersebut bahkan berujung pada laporan ke kepolisian setelah keluarga korban menilai proses mediasi sebelumnya belum memberikan penyelesaian yang mereka harapkan. Sedikitnya empat siswa disebut menjadi korban dugaan kekerasan. Mereka yakni Riski, siswa kelas IX SMP Negeri 2 Cluring; Kevin, siswa kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Tamanagung; Rois, siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Cluring; dan Adit, siswa kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Tamanagung. Menurut keterangan keluarga, Riski diduga mendapat tendangan pada bagian kaki dan pukulan di bagian belakang kepala. Sementara Kevin disebut mengalami dugaan pemukulan pada bagian pipi kanan dan kiri. Dua siswa lainnya, Rois dan Adit, juga disebut mengalami dugaan kekerasan pada bagian wajah. Mediasi Justru Dipersoalkan Persoalan tersebut sebelumnya sempat dimediasi oleh Kepala MTs Baitus Salam, Titik Indahwati. Namun, bukannya persoalan dianggap selesai, proses mediasi justru menuai keberatan dari pihak keluarga korban….